Ekspedisi Seruni: Belajar Konservasi Bersama Masyarakat Kampung Muara 1


 

Dokumentasi Rimpala 2026

  Kabut pagi menyelimuti perbukitan Kampung Muara 1, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Rumah-rumah warga berdiri mengikuti kontur bukit, berdampingan dengan sawah, kebun, sungai, dan hutan yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kampung Muara 1 berada di zona penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), membuat kehidupan masyarakat memiliki hubungan erat dengan lingkungan dan sumber daya alam di sekitarnya. Kondisi bentang alam tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan berupa longsor, banjir, gempa, serta persoalan pengelolaan sampah. Kehidupan masyarakat di wilayah ini memperlihatkan bahwa konservasi tidak dapat dipisahkan dari aktivitas dan kebutuhan manusia.    

    Ekspedisi Seruni R-XXIX hadir dengan membawa semangat pendidikan konservasi berbasis partisipasi masyarakat. Kegiatan ini berlangsung selama 15 hari sejak 13 Juli 2026 dengan tujuan memahami kondisi lingkungan sekaligus membangun interaksi bersama masyarakat. Para ekspeditor tidak hanya datang untuk mengumpulkan data, tetapi juga belajar mengenai kehidupan masyarakat dan hubungan mereka dengan lingkungan. Proses adaptasi dimulai melalui perkenalan, percakapan, serta keterlibatan dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Interaksi tersebut perlahan membuat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat menjadi semakin dekat.

    Kegiatan wawancara menjadi salah satu rangkaian utama Ekspedisi Seruni R-XXIX. Selama kurang lebih tujuh hari, para ekspeditor mendatangi rumah warga untuk mengumpulkan informasi mengenai kondisi sosial dan lingkungan Kampung Muara 1. Sebanyak 73 responden terlibat dalam kegiatan wawancara dan memberikan berbagai cerita mengenai sungai, sampah, bencana, serta perubahan kondisi kampung dari waktu ke waktu. Percakapan bersama masyarakat memberikan gambaran yang lebih luas dibandingkan sekadar data dalam kuesioner. Pengalaman tersebut membuat mahasiswa dapat memahami lingkungan melalui sudut pandang masyarakat yang mengalaminya secara langsung.

    Kehidupan masyarakat Kampung Muara 1 memiliki keterkaitan yang kuat dengan sumber daya alam. Sebagian masyarakat bekerja sebagai buruh tani, penggarap sawah, peternak, dan pekebun dengan komoditas seperti kapulaga, cengkeh, dan pala. Persawahan, budidaya domba, serta empang ikan juga menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di sekitar permukiman. Hubungan sosial masyarakat turut menjadi kekuatan dalam kehidupan kampung melalui berbagai kegiatan bersama, salah satunya pengajian antaribu RT. Kondisi tersebut menjadi modal sosial yang dapat mendukung keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi.


Dokumentasi Rimpala 2026

    Kepedulian terhadap lingkungan dapat ditemukan melalui berbagai praktik sederhana yang dilakukan masyarakat. Botol dan kemasan bekas dimanfaatkan sebagai wadah untuk menanam bawang daun dan kucai menggunakan sistem vertikultur sederhana. Pemanfaatan tersebut menjadi contoh penerapan prinsip reduce dan reuse dalam kehidupan sehari-hari. Permasalahan sampah masih ditemukan dalam bentuk tumpukan, pembakaran secara terbuka, serta pembuangan sampah di lereng dan tepian sungai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran lingkungan perlu berjalan bersama dengan ketersediaan fasilitas dan sistem pengelolaan sampah yang sesuai.

    Rangkaian ekspedisi dilanjutkan dengan kegiatan penyuluhan yang menjadi bagian dari pendidikan konservasi bersama masyarakat. Materi dan berbagai kebutuhan kegiatan dipersiapkan sebelum pelaksanaan agar informasi dapat disampaikan secara mudah dipahami. Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Sebanyak 20 responden mengikuti pre-test dan post-test sebagai bagian dari evaluasi kegiatan. Proses penyuluhan menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara mahasiswa yang membawa pembelajaran dari kampus dengan masyarakat yang memiliki pengalaman langsung terhadap kondisi lingkungan.

    Kondisi geografis Kampung Muara 1 juga memperlihatkan berbagai tantangan yang perlu dihadapi masyarakat. Wilayah perbukitan, keberadaan sungai, dan curah hujan tahunan sekitar 4.000–6.000 mm membuat risiko longsor dan banjir menjadi bagian dari kondisi lingkungan yang perlu diperhatikan. Kecamatan Pamijahan tercatat memiliki 17 titik sebaran longsor pada periode 2011–2015, dengan sebagian besar wilayahnya termasuk kategori rawan longsor. Kerusakan dan lubang pada beberapa bagian jalan juga menjadi persoalan yang mengganggu mobilitas masyarakat, terutama ketika hujan turun. Aktivitas kendaraan wisatawan pada akhir pekan turut disebut masyarakat sebagai salah satu kondisi yang memengaruhi kerusakan jalan penghubung.

    Pemanfaatan sumber daya alam juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kampung Muara 1. Pengambilan pasir dan batu dari sungai secara tradisional dilakukan sebagai salah satu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Aktivitas tersebut memiliki hubungan dengan kehidupan masyarakat, tetapi tetap perlu memperhatikan keberlanjutan ekosistem sungai. Keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya dan perlindungan lingkungan menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan kawasan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan aspek ekologis sekaligus kehidupan masyarakat.

Dokumentasi Rimpala 2026

    Ekspedisi Seruni R-XXIX memberikan pengalaman bahwa pendidikan konservasi tidak hanya berlangsung melalui penyampaian materi di dalam ruangan. Pengetahuan tentang lingkungan juga dapat diperoleh melalui percakapan dengan warga, perjalanan menyusuri kampung, pengamatan terhadap kondisi sungai, serta keterlibatan dalam aktivitas sehari-hari. Interaksi sederhana seperti bermain di sungai, berjalan bersama warga, dan bercanda dengan anak-anak menjadi bagian dari proses membangun kedekatan. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana masyarakat beradaptasi dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Masyarakat juga mendapatkan ruang untuk menyampaikan pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki kepada para ekspeditor.

    Selama 15 hari, Kampung Muara 1 menjadi lebih dari sekadar lokasi kegiatan bagi Ekspedisi Seruni R-XXIX. Setiap wawancara, percakapan, kegiatan penyuluhan, dan interaksi bersama masyarakat memberikan cerita mengenai hubungan manusia dengan lingkungan. Konservasi terlihat bukan hanya sebagai upaya menjaga hutan, tetapi juga sebagai usaha menjaga sungai, mengelola sampah, memahami risiko bencana, serta mempertahankan kehidupan masyarakat. Perangkat Desa Cibunian juga menyampaikan harapan agar kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat dan dilanjutkan pada kegiatan berikutnya. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga lingkungan membutuhkan pengetahuan, kepedulian, dan partisipasi berbagai pihak.

Dokumentasi Rimpala 2026

    Ekspedisi Seruni R-XXIX mungkin telah selesai, tetapi cerita Kampung Muara 1 masih terus berjalan. Data telah dikumpulkan, pengalaman telah dibawa pulang, dan berbagai cerita masyarakat menjadi bagian dari perjalanan para ekspeditor. Pendidikan konservasi tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi ekspedisi karena pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk melihat persoalan lingkungan dari sudut pandang yang lebih luas. Kampung Muara 1 mengajarkan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana dan keterlibatan bersama. 


Saksikan kisah lengkap Ekspedisi Seruni R-XXIX dalam video dokumenter dan temukan cerita di balik perjalanan belajar konservasi bersama masyarakat Kampung Muara 1.

Video Dokumenter Ekspedisi Seruni



Komentar

Popular Posts

PENGHIJAUAN DAN KEMAH CINTA LINGKUNGAN

Antara Cemoro Sewu & Cemoro Kandang

Ekspedisi Timik Sanjo: Penjelajah Malam yang Terancam Padam