"Riyanda Yusfidiyaga"
"Tri Giyat Desantoro"
"Burhan Zein Khalilullah"
"Muhammad Irfan Danu"
"Elsa Puji Haryati"
"Dewi Ayu"
"Rahmia Nugraha"

Ke-tujuh Manusia Goa

Jika di televisi ramai perbincangan mengenai 7 Manusia Harimau, kali ini Rimpala memiliki 7 Manusia Goa. Istilah ini digunakan karena ke-7 orang ini adalah mereka yang ditugaskan untuk melakukan ekspedisi goa. Ekspedisi ini dinamakan "Ekspedisi Tanah Seribu Pulau" yang dilakukan di Maluku. Dinamakan demikian karena pulau Maluku terkenal dengan ribuan gugusan pulau-pulau besar maupun pulau kecilnya. Kepulauan Maluku terbagi atas dua wilayah utama yakni Maluku Utara dan Maluku Tengah, masing-masing wilayah memiliki satu buah taman nasional yakni Taman Nasional Manusela (TNM) di Pulau Seram-Maluku Tengah dan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), Pulau Halmahera-Maluku Utara. Pemilihan lokasi di TNAL karena kawasan ini memiliki karst yang cukup luas, sehingga fokus utama ekspedisi ini adalah mencari data seputar goa. Karst ialah bentangan alam yang terbentuk dari pelarutan batuan kapur yang membentuk endokarst dan eksokarst yang menyebabkan terbentuknya goa sebagai habitat beragam hewan (Rahmadi, 2007). Kawasan karst merupakan salah satu kawasan bernilai tinggi dalam pengelolaan hutan, sehingga perlu adanya pelengkapan dan perbaharuan informasi guna mendukung kelestarian kawasan ini. Hal inilah yang melatarbelakangi Ekspedisi Tanah Seribu Pulau.

Ketika masuk goa tidak sembarang "masuk"
Kegiatan yang dilakukan dalam Ekspedisi Tanah Seribu Pulau ini adalah inventarisasi pintu masuk (entrance) goa, pemetaan goa, inventarisasi terbaru jumlah goa di dalam taman nasional, eksplorasi biospeleologi, speleofotografi, dan kondisi masyarakat sekitar TNAL. Pemilihan goa ialah goa vertikal maupun goa horizontal. Diperlukan latihan fisik serta perlengkapan alat yang memadai, mengingat ekspedisi dilakukan pada saat bulan Ramadhan dan medan yang dihadapi juga tidaklah ringan. Tim ekspedisi sudah membawa peralatan sendiri dari kampus IPB; seperti peralatan turun goa vertikal (tali carnmantel 200 meter, harnest, crawl, carabiner, dll) helm, sepatu, headlamp, baju (cover all), GPS, sunto, kompas, dan kuisioner terkait kehidupan masyarakat sekitar TNAL. Semua dipersiapkan dari jauh-jauh hari.

Tepat pada 21 Juni 2015 pukul 20,15, diadakan pelepasan tim ekspedisi di Bivak Rimpala-sekretariat kami di Fakultas Kehutanan- Kampus IPB Dramaga. Pelepasan dihadiri oleh beberapa orang senior dan anggota aktif Rimpala. Acara pelepasan berlangsung khidmat yang ditutup dengan doa pengiring keberangkatan tim menuju bandara Soekarno Hatta-Jakarta untuk selanjutnya menuju Bandara Sultan Babullah-Ternate. Keesokan hari, pada 22 Juni 2015 tim ekspedisi berhasil mendarat dengan selamat di Ternate. Tim ekspedisi langsung disambut oleh senior kami yakni Kang Tohirin untuk segera melanjutkan perjalanan menuju TNAL. Dari kota Ternate diperlukan jalan air menyebrangi Teluk Dodinga untuk sampai menuju Sofifi (Ibu Kota Maluku Utara, di Pulau Halmahera; yaitu tempat kantor balai TNAL). Dibutuhkan sekitar 45 menit menggunakan speadboat untuk sampai ke Sofifi.


Penyambutan tim ekspedisi oleh Kang Tohirin 
Tim ekspedisi akan bermalam di kantor balai TNAL. Keesokan harinya, dilakukan presentasi awal sekaligus menentukan titik mana yang akan dilakukan penelusuran goa. Terdapat kesepakatan untuk memulai dari daerah Lolobata. Setelah menemui kesepakatan sehabis presentasi, maka dilakukan persiapan logistik maupun berbekalannya, sebab penelusuran goa dimulai pada tanggal 25 Juni 2015 hingga kesepuluh hari mendatang.

Presentasi dengan pihak taman nasional

Lokasi penyelusuran goa sangat minim bahkan tidak ada sinyal, sehingga belum ada kabar terbaru mengenai tim ekspedisi. 
Percobaan alat sebelum menjelajahi TNAL

Teriring doa tulus dari kami, segenap Rimpala dan semesta alam. Semoga kalian disana baik-baik saja dan lancar menghadapi segala rintangan yang menghadang.

Ingat selalu : Usah Maju Jika Kau Ragu!


Nb: Ditunggu update terbaru keadaan Tim Ekspedisi Tanah Seribu Pulau mendatang...



1 komentar :