Nyanyian Hati Seorang Pendaki

Puncakmu tinggi menjulang..
Auramu bangkitkan raga ini..
Raga yang lelah tak berdaya..
Dengan melihat puncakmu, sekaan ragaku mendapat kekuatan..
Kekuatan tuk melangkah menjangkaumu..

Terpaan angin tak menhentikan langkah ini..
Hujan tak membuat kami gentar..
Badai tak membuat kami ciut..
Bahkan kilat pun tak akan membuat kami mundur..
Karna kami tlah yakin tuk berdiri disana..

Sekuat tenaga ku langkahkan kaki ini..
Tak peduli seberat apa halangan di depanku..
Aku tetap melangkah dengan pasti..
Dengan keyakinan sepenuh hati..
Tuk dapat melihat keelokanmu dari atas sana..

Gunung Gede-Pangrango, 2012


Pasti udah gak asing lagi kan mendengar nama Gunung Gede-Pangrango???? Awalnya saya pikir gunung ini hanya sebuah Gunung yakni gunung Gede Pangrango, namun ternyata saya salah. Sebab Gunung Gede-Pangrango adalah dua buah gunung yang terpisah meskipun letaknya yang berdekatan. Sesuai namanya, ada gunung yang bernama Gede dan ada gunung bernama Pangrango.
Gunung Gede memiliki ketinggian 2.958 mdpl dengan status gunung yang masih aktif, ini ditandai masih dapat dilihat adanya kawah yang mengeluarkan semburan belerang jika kita sudah sampai di puncaknya. Hal ini berbeda dengan Gunung Pangrango, gunung ini memiliki ketinggian lebih tinggi dari Gunung Gede yakni 3.019 mdpl. Status Gunung Pangrango inipun adalah gunung non aktif.
Jika diperhatikan dari bawah, puncak gunung ini pun jelas berbeda. Puncak Gunung Gede lebih landai dibanding puncak Pangrango yang lebih menjulang.
Perjalanan kami mulai pada 17 Mei 2012, kami berangkat dari Bivak (Base camp sekaligus kediaman kedua) pukul 22.30 menggunakan truk langganan kami hehe..
Gede :)

Perhatikan ya!
Angin malam terasa menyejukkan sekaligus menyempitkan pernapasan tapi kami tak ada yang mengeluh, kami semua tertawa-tawa gembira tak sabar menunggu kendaraan beroda besar itu membawa kami ke lokasi pendakian yang kami tuju. Sesuai dengan rencana kami, pukul 00.00 kami tiba di jalur pendakian Gunung Putri. Setelah menurunkan semua bawaan, kami langsung di tawari bermacam-macam tempat penginapan oleh penduduk sekitar. Kamipun memutuskan beristirahat di teras depan rumah penduduk. Bagi teman-temang yang sudah mengantuk, merekapun langsung membuka matrasnya lalu mengeluarkan sleeping bag mereka dan merekapun segera tidur. Namun bagi yang memang tak tahan mencium aroma bubur, maka segera memesan bubur ayam hangat ala Gunung Putri hehe. Bubur itu memang panas namun akan segera dingin lantaran kalah dengan udara disana hehe.. Selepas menyantap bubur, kamipun segera memejamkan mata. Udara yang menerpa sangat dingin sehingga cukup waktu yang lama bagi saya untuk memejamkan mata.

Sebelum Berangkat
Di Kampus







Pukul 03.30 sebagian dari kamipun telah bangun, ya akibat kedinginan kali ya jadi kurang nyenyak tidur nya hehe. Walaupun begitu mata kami semua sudah segar, maklum tidak sabar menanti matahari pagi terbit agar kami lekas bisa memulai pendakian.
Warung Nasi Nona Mini  Tempat Istirahat Sementara



Mentari Pagi Secerah Senyum Kami

Bagi kaum wanita, kami langsung memasak makanan untuk sarapan. Saat adzan berkumandang sarapan pun telah tersaji. Kamipun segera menyantapnya lalu segera menunaikan ibadah Subuh. Ditandai dengan naiknya matahari pagi, kami pun telah menggendong daypack maupun carrier kami. Tepat pukul 06.20 kami lalu memulai mendaki setelah melakukan doa bersama terlebih dahulu. Rombongan kami berjumlah 23 orang. Jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran pendakian, jadi kami mendaki dengan sistem santai tapi konstan. Jadi kami akan berhenti 5 menit setelah mendaki selama satu jam.
Full Team

Urus Simaksi lagi di GPO

Indahnya :)
Ada beberapa kawan kami yang sudah merasa kelelahan saat masih di trek awal, sayapun merasakan hal yang sama namun setelah beberapa menit rasa itu telah hilang, jadi bisa disimpulkan memang pada saat awal kita berjalan, tubuh akan merasa kaget dahulu sehingga kita akan merasa sangat lelah meskipun baru di awal track, setelah itu baru akan ada penyesuaian antara diri dengan lingkungan.
Mentari Pagi Menyapa
Langkah demi langkah kami lalui dengan riang meski kamipun lelah tapi ada saja kawan yang menyemangati selama diperjalanan. Ya walaupun ada juga yang menggerutu saja selama perjalanan. Tapi ya itulah salah satu seni mendaki gunung, kita jadi bisa mengetahui watak teman-teman kita karena bila kita bepergian di alam maka akan terbuka semua sifat manusia hehee...

Peluh semakin membasahi jidat, punggung, dan kaki saya. Beban serasa semakin berat. Tapi semangat saya kembali terbakar saat saya mendengar teriakan salah seorang teman di depan saya yang menginfokan bahwa ia telah sampai di Alun-alun Surya Kencana, sebuah padang luas berisi ribuan bunga abadi. Tak sabar melihatnya, saya pun memacu kaki saya agar melangkah lebih cepat lagi dan saya amat sangat bahagia saat kaki saya tiba-tiba tlah sampai di tempat itu. Dalam hati saya mengucap rasa syukur sebab bisa sampai juga disana. Jam menunjukkan pukul 10.35

1st Destiny


Hamparan Surya Kencana

Poseeee

Tanpa ada yang mengomando, kami semua langsung berlari menuju tengah alun-alun dan langsung mengeluarkan kamera yang kami bawa. Ya, memang dasar para narsisers, semua langsung mengambil pose masing-masing dan melupakan kelelahannya. Kurang lebih setengah jam kami habiskan untuk berfoto-foto ditengah hamparan edelweis di Alun-alun Surya Kencana itu.
Ayo ambil posisi

Saking Bahagianya Sampe Pelukan Gitu, hehe
Setelah puas berfoto, kami langsung jalan kembali untuk mencari tempat yang enak untuk beristirahat sembari makan siang. Tak beberapa lama kemudian kami sampai di tempat itu dan langsung memasak makan siang. Sambil menunggu masakan siap, adapula beberapa kawan saya yang menggunakan waktunya untuk memejamkan mata dan adapula yang berjalan disekeliling untuk mengamati edelweis dari dekat atau hanya sekedar mencari bunga dendelion yang memang banyak tumbuh disana. Saat itu langit cerah dan mataharipun tampak memberi sinarnya ya meskipun udara yang berhembus masih saja menusuk tulang. 

Cemungguuttzzz
Ada Bule Juga Yakaan
Masak-Masaak
dan Dia TIDUR!

Namun, saat saya dan teman saya berkeliling sejenak, tiba-tiba angin berhembus kencang dan tiba-tiba kabut turun. Semua menjadi putih dan tidak terlihat apa-apa. Kami sempat terdiam beberapa saat lalu kami dengan spontan bergandengan tangan dan berlari kearah sumber suara teman-teman lain dengan menerobos kabut putih itu. Untung jarak kami tidak begitu jauh jadi masih mudah menemukan suara mereka hehehe. Yang mau saya ingatkan adalah, hati-hati saat berada di alam sebab alam sangat mudah sekali berubah terkadang panas terik lalu hujan badai dan tiba-tiba bisa saja terjadi kabut tebal. Jadi, saat anda berada di alam janganlah anda sendirian dan jangan panik saat cuaca berubah drastis. Kita harus tetap tenang agar bisa berpikir positif dan tidak bertindak gegabah untuk segala urusan.

Oke, kembali lagi..
Setelah perut kami terisi makanan, tepat pukul 14.50 kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Gede yang hanya berjarak kurang lebih setara dengan 1 jam perjalanan lagi. Dari Surya Kencana memang sudah terlihat puncak Gunung Gede. Tanpa buang waktu, kami langsung berjalan mengikuti jalur yang telah ada. Sepanjang perjalanan, pemandangan yang kami lihat begitu indah. Terlihat hamparan luas Surya Kencana yang ditumbuhi edelweis, meski hanya di pinggir-pinggir saja dan hanya sebagian edelweis yang masih tersisa ditengah Surya Kencana. Namun, decak kagum tak luput keluar dari mulut saya. Pemandangan indah itu menjadi bius bagi saya sebab tak terasa bahwa puncak Gede sudah berada di pijakan kaki saya. Dengan haru saya mengucap syukur untuk kedua kalinya. Puncak Gede telah berhasil kami taklukkan. Jarum jam menunjukkan pukul 15.30 saat itu. Pendaki lain sudah terlihat berada disana. Langit pada saat itu pun sangat bersahabat, tak ada mendung yang menghalangi pandangan kami sehingga terlihat dengan jelas kawah yang dimiliki Gunung Gede. Selain itu tampak jelas pula puncak Gunung Pangrango yang berdiri dengan gagahnya diseberang sana seakan menantang kami untuk segera mendakinya.
Enaaaaknyooo Masakannya

Menuju Gunung Gede

Alun-Alun Surya Kencana dari atas Jalur Gede

Vegetasi sebelum Puncak

Lagi-lagi photo session dimulai, semua tak sabar menunggu dirinya difoto seorang diri berlatar belakang mahakarya indah ciptaan Tuhan itu. Kurang lebih satu setengah jam kami berada disana. Lalu pemimpin pendakian kami pun menginstruksikan untuk segera turun karena perjalanan kami masih jauh sebab butuh 2-3 jam lagi menuju Kandang Badak, sebuah tempat inap bagi para pendaki untuk mendirikan tenda mereka.
HORAAAAII

RIMPALA di hati

US

KAMI :)

Semua Ada Disini

Pra-Wedding di Gede


Sempat kami berfikiran untuk melihat matahari terbenam diatas puncak Gede, namun urung kami lakukan sebab ada diantara kami yang memang sudah menurun kesehatannya lantaran tidak begitu kuat terhadap hantaman angin yang memang lebih kencang saat berada di Puncak Gede ini.
Wanita Tangguh :)
Perjalanan turun menuju Kandang Badak pun dimulai, kami menuruni puncak dengan berhati-hati walau tetap dengan kecepatan yang konstan.


Perjalanan menuju Kandang Badak menghabiskan waktu kurang lebih hanya 2 jam.
Perjalanan turun melewati jalur Cibodas bisa dibilang harus lebih berhati-hati sebab jalurnya memang lebih sedikit curam dibanding jalur Gunung Putri. Jalur Cibodas yang paling ekstrim ialah ada sebuah tanjakan setan, disebut itu sebab tanjakan yang harus dilalui sangat curam sehingga dibutuhkan bantuan tali webbing sebagai alat bantunya.

Tepat pukul 19.00 kami tiba di Kandang Badak. Tempat itu sudah dipenuhi tenda berwarna warni milik pendaki lain, akhirnya kami mencari tempat yang agak kosong dan setelah berhasil mendapatkannya kami langsung memasang tenda dengan cekatan sebab ada beberapa orang kawan kami yang sakit. Pembagian tugaspun terlihat, kebanyakan dari kawan lelaki saya dengan cekatan mendirikan tenda dan kawan wanita saya pun memasak makan malam dengan lihay nya. Udara saat itu lumayan menusuk tulang ditambah hembusan angin yang tak kunjung berhenti. Akhirnya tenda berhasil didirikan dan langsung kami masukkan teman-teman kami yang memang sedang sakit. Mereka terlebih dahulu dilakukan penanganan agar sakitnya tidak bertambah parah. Sembari itu, ,minuman panas pun segera mengalir ke tenggorokan kami semua. Tak lupa makan malam pun segera siap dan kami santap dengan lahap meski hujan pun turun membasahi bumi.
Inilah Camp Kami

Kondisi kami memang kelelahan, jadi sehabis makan langsung kami gunakan untuk istirahat. Perasaan sedih, takut, dan iba saya rasakan saat saya harus satu tenda menjaga kawan-kawan kami yang sakit. Semua hal kami lakukan demi membuat mereka nyaman, aman, dan terlindungi meskipun  itu berarti akan membuat kami yang sehat akan menjadi berkurang kenyamanannya, tapi itu tidak masalah yang penting mereka semua bisa sembuh dan agar esok saat mentari pagi bersinar merekapun akan bersinar secerah mentari pagi itu :)
Pagipun tiba, aktivitas pun dimulai lagi. Menunaikan ibadah solat dilanjutkan memasasak sarapan pagi ditengah dinginnya udara adalah tantangan yang tidak ringan pula bagi kami semua, tapi tetap kami jalani dengan hati ikhlas nan riang :)
Bertemu Kawan Lama


Setelah semua sarapan, briefing pun dilakukan sebelum pendakian selanjutnya dilaksanakan. Namun, sebelum itu kami mencapai kesepakatan agar tetap meninggalkan ke dua orang teman kami yang semalam sakit agar tetap berada di tenda saja sementara menunggu kami mendaki Gunung Pangrango. Mereka akan ditemani seorang dari team kami yang memang bisa mengurus kedua kawan kami itu. Akhirnya pukul 08.10 setelah mengecek semua perlengkapan yang memang perlu dibawa ke Puncak Pangrango, kami pun segera menyusuri jalur yang telah ditentukan.

Kanankah? Kirikah??
Jalur Menuju Pangrango


Jalur menuju Pangrango bisa dibilang lebih melelahkan sebab banyak sekali pohon-pohon tumbang yang melintang di jalur pendakian kami. Sehingga lama-lama lelah juga melangkahi pohon-pohon berdiameter sedang tersebut dan perlu waspada akan adanya dahan yang menjuntai-juntai sehingga tak jarang kami harus merunduk bahkan jongkok untuk melewatinya. Selama kurang lebih 3,5 jam melakukan pendakian akhirnya kami tiba pada ketinggian 3.019 mdpl yang itu artinya Puncak Pangrango sudah berada di bawah kaki saya lagi. Rasanya biasa saja bagi saya sebab memang puncak Pangrango tidak terlalu luas dibanding puncak Gede namun tak lupa rasa syukur kembali mengalir dalam  bibir saya. Tanpa buang waktu kami langsung menuju Lembah Mandala Wangi yang identik dengan film Soe Hok Gie itu :) :)
Istirahat dulu Pleasee

Puncak Pangrango 3.019 mdpl
Mandala Wangi

Wuauaaaaahhh ingin sekali saya berteriak saking senangnya berada disana hehe. Hamparan padang edelweis pun kembali memenuhi pandangan mata saya ditambah sejuknya udara disana kembali mengingatkan saya pada Surya Kencana, tapi bedanya di Mandala Wangi suhunya lebih dingin sedangkan di Surya Kencana lebih panas.

Ternyata benar apa yang di utarakan Gie lewat puisinya, disana tertulis:
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih...
Lembah Mandala Wangi...
Kau dan aku berdiri tegak...
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram...

Mandala Wangi with Others

Di Manda Wangi terhampar begitu luas padang berisi edelweis yang kerap disebut orang sebagai lembah kasih. Disana juga kabut turun dengan indahnya, perlahan-lahan hingga akhirnya kabut itu menghantarkan setetes air hujan. Meskipun begitu kita masih bisa berdiri dengan tegak untuk melihat sekeliling yakni sejauh mata memandang masih ada hutan-hutan dengan beragam keanekaragaman didalamnya.
Intinya Mandala Wangi merupakan tempat yang sangat indah untuk dikunjungi :) :) :)
Sehabis memandang kagum sekitar disertai pengambilan gambar tentunya, kami langsung memasak makanan sebab seindah apapun pemandangannya, perut kami pun tak kan bisa tertipu hehe. Jadilah kami makan siang disana sambil menikmati setiap jengkal hembusan angin yang menerpa kami. 

Merah Putih Menancap di Lembah Mandala Wangi
Momen yang tak terlupakan lainnya adalah saat ku lihat para lelaki mengambil air wudhu di genangan air jernih semacam sungai kecil disana. Mereka akan melaksakan sholat Jumat berjamaah di atas Puncak Pangrango. :) Dengan memakai raincoat beralaskan matras berlapis trashbag, merekapun menghadap Tuhan Yang Maha Agung, yang menciptakan bumi dengan sangat indahnya. :)
Seusai melaksanakan shalat Jumat, kami pun segera turun menuju Kandang Badak sebab cuaca semakin menusuk tulang dan hujan pun turun.
Sujud pada-Mu ya Rabb

Jumatan di tengah Hujan

Tanjakan Setan!

Pegangan Webbingnya!

Sesampainya di camp kami langsung makan lagi karena kawan-kawan kami di camp telah memasak untuk kami semua. Setelah itu dengan cekatan kami membereskan semua peralatan yang ada dan memasukkan nya pada tas kami. Pukul 16.35 rombongan kami pun siap melanjutkan perjalanan pulang melewati jalur Cibodas. Semua pendaki berbaris satu persatu saling menjaga satu sama lainnya dan tak lupa sudah memegang headlamp sebagai jaga-jaga lantaran kabut memang menyertai perjalanan kami.
Disana kami melewati air panas Cibodas yang cukup berbahaya sebab tempatnya amat licin sementara pegangan yang tersedia sangat minim dan akan semakin berbahaya saat banyak pendaki yang lalu lalang disana. Jadi berhati-hati ya :D

Siap-siap, Ayo Beres Beres Segera

Menu Lezat Ala Rimbawan

Pukul 19.15 kami akhirnya tiba juga di kantor Gunung Gede-Pangrango. Akhirnya kami semua selamat tanpa kurang apapun :)
Kami langsung meluruskan kaki dan berganti pakaian lalu menyantap makan malam sambil berbincang-tertawa-dan bersenda gurau menhabiskan malam menunggu truk menjemput kami untuk kembali lagi ke Bivak kami tercinta..

INILAH PERSONEL KAMI KEMARIN :)

KIRI-KANAN (Jajang-Kober-Anker-Contreng-Tunduh-Boss-Jurig)

KIRI-KANAN (Cipon-Tri-Sufi-Ari-Hani-Suju-Intan-Dian-Elsa-Burhan-Danu-Ipeh)
                                          
                                                                         E N D S

.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.bye.

2 komentar :

  1. capek baca tulisannya... kebanyakan gambar juga... -,-

    BalasHapus